Thursday, July 30, 2020

Gus Baha: Mengenal Filosofi Sholat dan Cara Mendidik Setan

Pada asalnya sholat memang sudah baik. Mengenai caranya macam-macam. Terakhir tata cara yang tidak diterima, bolehkah witir hanya satu rakaat. Jawaban  Imam Syafi’i. "Tentu boleh, witir hanya satu rakaat". Seperti yang dilakukan Gus Baha pribadi setelah Isya, seringnya witir hanya satu rakaat. Tanpa ‘kepala’ dan tanpa ‘ekor’. Itulah witir sejati. Karena tidak memakai 3 rakaat, di mana dua rakaat awal bermasalah.

Mengandung unsur nyicil witir. Jadi diakali dengan witir 1 rakaat, karena pakai cara witir apapun rasanya kurang sejati. Sayidina Usman sepanjang hidupnya, sahabat terkenal, tidak pernah witir lebih dari satu rakaat. Tapi jangan ditanya, yang dia baca itu satu Qur’an sampai khatam. Satu rakaat tapi yang dibaca satu Qur’an penuh. Langsung khatam.

filosofi sholat ala gus baha
filosofi sholat ala gus baha - ummiabi.id

Alasan Imam Syafi’i, Nabi itu pernah witir dengan 3 rakaat. Menurut Imam Syafi’i itu tidak mungkin, yang berstatus witir itu hanya satu rakaat terakhir. Karena dua rakaat pertama tetap menjadi sholat tersendiri. Ketika sudah ditutup salam, karena salam pertanda sholat sudah selesai. Makanya terjadi perdebatan. Dan perdebatan ini baik, karena tentang hal yang baik yaitu sholat bukan tentang siapa yang lebih cantik, malah jadi finah dan menimbulkan masalah. Begitulah ulama macam-macam (pendapatnya).

Terkait tentang filosofi sholat, meskipun doa iftitah tidak wajib, tapi jika ada kesempatan, bacalah. Karena tidak ada riwayat yang  mengatakan ulama yang pernah meninggalkan itu. Meskipun hanya sedikit (sepotong). Terutama di bagian "inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin..." sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya milik/untuk Allah.

Karena inilah filosofi yang membuat orang yang shalat membuatnya jadi ahli surga. Karena benar-benar beruntung, sudah pasti beruntung (orang yang sholat). Lihat surat al Mu'minun 1-2. "Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman yaitu orang yang khusyu dalam sholatnya...

"Kamu tidak perlu khawatir su’ul khotimah. Itu was-was dari setan. Tidak ada namanya su’ul khotimah. Setan itu salah, hanya menakut-nakuti. Jika setan percaya su’ul khotimah, suruh dia mewujudkannya. Makanya kalau Gus Baha sedang takut su’ul khotimah, Gus Baha katakan kepada (setan), “Wahai setan! Kalau  memang kamu menakutiku su’ul khotimah maka buatlah aku menjadi su’ul khotimah. Jangan hanya berani nakuti saja! Agar tampak ketuhananmu”.

“Kamu sendiri tidak siap jadi tuhan, kok bisa-bisanya menakuti... ?” Setan memang harus dididik, harus diancam! Makanya tidak ada kyai ‘pemuja’ setan. Setan itu godaannya, (sekelas) kyai aja belum pasti selamat. Itu namanya memuji setan. Karena dianggap setan itu luar biasa. Setan itu (justru) harus kamu hujat. Harus kamu anggap gagal.

Wahai setan bodoh sekali kamu! Kamu menakutiku su’ul khotimah, tapi aku masih aja sholat. Berarti kamu gagal.  Kalau kamu (setan) ingin semua manusia sesat, maka sesatkan mereka, tidak perlu menakut-nakuti, katanya kamu (setan) hebat, tapi Cuma segitu kemampuanmu. Supaya dia (setan) tahu kegagalannya. Jadi setan harus dididik bahwa dia juga sering gagal.

Setan kan ingin manusia meninggalkan sholat, zina, mencuri... ternyata kita tidak mencuri. Dan yang sholat juga banyak. Berarti itu tingkat kegagalannya setan. Sedangkan kita tidak (berhasil digoda setan). (Kalau kita beranggapan) Sholat puluhan tahun bisa hilang sebab digoda setan, berarti kita masih bodoh. (Padahal) Jika kita sholat puluhan tahun, berarti setan ada dalam kegagalan.

Karena banyaknya orang yang sholat berarti setan telah gagal. Maka Gus Baha makin berani kepada setan. Betapa bodohnya dia (setan) sampai mau masuk neraka. Kalau dia hebat, dia  bisa bilang: ”tidak mau, Allah. Saya ingin surga”. Ternyata dia tidak bisa masuk surga. Sebegitu bodoh dan lemahnya dia, kok dipuji. Setan sangat lemah sekali.

Semua perdebatan itu berakhir ketika Allah berfirman :”Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah”. Tapi kitalah yang sering memujinya. Menganggap setan itu hebat, seorang wali pun kadang tergoda. Urusan tergoda atau tidaknya kan lebih banyak yang tidak tergoda.

Minimal begini. Tapi misal kita pernah ingin  tahajud tapi tidak jadi. Berarti setan menang? Tapi setan tidak sekedar berharap kamu tidak tahajud. Dia ingin kamu kafir. Kalau benar kamu tidak tahajud, setan masih rugi. Karena masih Islam dan tetap akan masuk surga. Dan ternyata kita juga tidak kafir. Makanya ada ulama yang jika bangun tidur dan tidak tahajud, nangis. Lalu mengadu pada Allah. Gusti, kenapa saaya tidak pernah tahajud...oleh Allah dijawab, dalam kitab al Minan al Kubro, karya Imam Sya’roni.

Kamu ini ulama kok bodoh. Siapa yang membuatmu tertidur? Engkau, Gusti!. Ya sudah, anggap saja semua  itu kehendakKu, bukan kehendak setan. Makanya meski keblablasan tidak pernah tahajud, Gus Baha ya tetap tenang. Karena tahu ilmunya. Yang membuat tidur Allah begitupun yang membangun kan Allah. Terima saja. Jika bangun lupa tahajud, terima saja. Apalagi jika itu setiap hari. Jadi enak. Hal itu tidak masalah. ber-Islam itu  gampang. Jadi ketika tahajud, itu kehendak Allah. Tidak tahajud itu kehendak Allah. Yang penting tidak maksiat. Itu sudah bagus.

Inna sholati wanusiki wamahyaya. Titik tekannya pada wamahyaya. Misalnya hidup itu atas kehendak Allah. Cara berpikirnya seperti itu. Orang-orang sakti di luar sana pada mati. Para Nabi juga meninggal. Begitupun orang-orang sholeh. Orang-orang  dzolim juga pada mati. Kalau betul mereka ingin menjaga kehidupan berarti kalau mereka kuasa, mereka tidak akan mati. Hidup selamanya. Tapi nyatanya mereka semua mati.

Berarti  hidup dan mati hanya milik Allah. Misalnya terpikir, lalu kelak saat kita sudah jadi tanah, bagaimana cara kita bangun? Nah ini yang penting yang harus diutarakan dalam kajian (Pengajian) ini. Sebelum mengaji, Gus Baha sering sholat dan membaca Al-Anfal ayat 42:

لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَن بَيِّنَةٍ وَيَحْيَىٰ مَنْ حَيَّ عَن بَيِّنَةٍ

"..agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula..."

[Al-Anfal:42]

Apakah kita tahu apa alasan kita hidup? Kenapa kita masih hidup? Tidak tahu. Kenapa kita wujud juga tidak tahu. Kita pernah tidak ada lalu tiba-tiba ada. Juga tidak tahu apa alasannya. Yang jelas itu di luar kemampuan kita. Setelah - katanya - kita punya akal, lalu kita bilang bahwa kita masih hidup karena tidak pernah terlindas truk..., karena tidak terserang penyakit..., karena jantung kita normal... paru-paru normal. Itulah alasan kenapa kita masih hidup.

Jadi atas nama kebodohan, bilang kita masih hidup karena jantung dan paru-paru yang  masih normal. Semua normal maka kita hidup. Jika ditanya, kapan kita mati? Setelah jantung dan paru-paru kita rusak, maka kita kan mati. Tapi orang yang sama, kita bilang berarti yang membuatmu hidup itu jantung dan paru-paru? Berarti ketika kita belum hidup jantung dan paru-paru harus ada lebih dulu?! Karena itu yang membuat kita hidup. Tidak juga. Dulu juga belum ada.

Kalau jantung  dan paru-paru semua normal membuat kita hidup berarti jantung dan paru-paru harus ada sejak dulu. Tidak juga. Paling-paling satus jantung dan paru-paru hanya dipakai alat oleh Allah untuk menjadikan kehidupan yang kita kira ada. Padahal sebetulnya kehidupan ini juga tidak ada. Karena kita tidak tahu apa yang dinamakan hidup. Tahu arti hidup? Semua ulama yang alim mengartikan hidup dengan 'tidak meninggal'. Hanya itu jawabannya. Karena mereka pun tidak bisa menjelaskan.

Makanya di Arab yang dinamakan hidup adalah tidak mati. Karena tidak bisa dijelaskan. Coba jelaskan. Kenapa Anda hidup, karena ada nyawa, nyawa itu ada dan bertempat dimana? Dia bertempat di jantung?!. Tidak bisa dijelaskan. Ketika hidup Anda tidak bisa Anda jelaskan seharusnya proses kita dibangunkan dari kubur pun tidak bisa dijelaskan.  Karena wujud kita datang tanpa diundang dan di luar kuasa kita. Nanti bangkit dari kubur pun di luar kuasamu. Sama kan? Sama-sama ada kesimpulan, semua milik Allah swt, Tuhan semesta alam. Tapi manusia atas nama akal, menganggap hidup ini ada alasannya.

Karena kita punya bapak ibu, makanya kita wujud. Lucu kan? Hidup ini disebut ada sebabnya. Tapi ketika nanti mati, lalu dibangkitkan. Dianggap itu tidak punya penyebab. Alasannya sudah jadi tanah masak bisa hidup lagi? Bagaimana caranya? Memang saat kita belum ada, hingga menjadi ada, bagaimana caranya? Makanya berulang kali diingatkan jika bangkit dari kubur itu mustahil berarti wujud Nabi Adam dan wujud yang sekarang lebih mustahil. Karena tanpa sebab. Iya. Lebih aneh Nabi Adam dan kita semua jadi arwah gentayangan.

Dulu dari mana kok tiba-tiba (manusia) sebanyak ini? Pada punya hutang, punya kasus, punya selingkuhan, mana yang lebih aneh. Lebih aneh wujud sekarang. Karena wujud nanti kelak di Mahsyar adalah wujud yang sudah ada. Sementara wujud kita sekarang dari wujud yang ‘tidak ada’. Makanya Allah mendidik kita dengan Al Insan: 1

هَلْ أَتَىٰ عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ حِينٌ مِّنَ ٱلدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا
“ Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang ketika dia (manusia) ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”

[Al-Insan:1]

Manusia itu  harus ingat, bahwa dia pernah tidak ada. Dari tidak ada menjadi ada adalah bukti bahwa wujudnya dia bukan atas kuasanya sendiri.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search